Postingan

Menampilkan postingan dari 2010

Belajar Sejarah dengan Metode Mind Map

Gambar
Dalam kurikulum sejarah terdapat 8 kompetensi umum yang harus dimiliki peserta didik, diantaranya peserta didik mampu menarik informasi dan berpikir kritis-analitis. Maka, untuk mewujudkan kompetensi tsb. diterapkan konstruktivisme. Menurut aliran ini, proses pembelajaran harus berpusat kepada peserta didik (belajar aktif). Proses pemahaman materi pada mata pelajaran sejarah menyangkut banyak aspek dan saling berkaitan antar konsep. Keterkaitan antar tema menjadi persyaratan utama dalam memahami keutuhan konsep sejarah. Satu konsep akan sulit dikaji secara utuh jika tidak dikaitkan dengan konsep lainnya. Oleh karena itu dalam mempelajari sejarah dituntut kemampuan berpikir logis. Dengan metode mind map diharapkan pemahaman dan logika peserta didik dapat berimbas kepada peningkatan daya serap dalam memahami konsep sejarah. Berikut sampel hasil karya peserta didik dalam mengembangkan konsep materi Pergerakan Nasional. Karya Alya, Adella, Isma, Syifa, Yoshua (XI IPA1) Karya Avira, Dara

Menyoal Penjualan Naskah Kuno

Naskah-naskah kuno yang menjadi bagian dari catatan sejarah Indonesia marak dijual ke luar negeri. Dalam 3 tahun terakhir sekitar 60 naskah Melayu kuno abad ke-19 sudah beralih tangan ke Malaysia. Pemburu naskah kuno adalah para akademisi Malaysia. Lokasi perburuan meliputi pulau Bintan, pulau Lingga dan pulau Penyengat. Sedangkan jenis naskah yang diburu yaitu Cerat Centini, kitab tafsir, Alquran kuno, Syair dan memoar atau catatan harian pujangga Melayu. Untuk secarik naskah kuno yang asli, Malaysia berani membayar hingga Rp50 juta. Untuk harga Cerat Centini yang diklaim pemiliknya sebagai naskah terlengkap di dunia dihargai Rp2,5 miliar. Itu pun setelah diteliti, bukan aslinya. Menurut Titik Pudjiastuti (Guru Besar Tetap FIB-UI), penjualan naskah-naskah kuno merupakan bagian dari penjajahan budaya secara perlahan. Apabila hal itu terus dibiarkan, akar budaya bangsa Indonesia akan tercerabut. Generasi muda pun akan kehilangan identitas bangsa. (Sumber : Media Indonesia, Kamis, 4

Menyikapi Maraknya Pencurian & Penjualan Benda-benda Purbakala

Pencurian benda-benda purbakala bukan hal yang aneh di negeri ini. Namun kalau benda-benda tersebut dicuri oleh dan melibatkan orang dalam, sungguh suatu malapetaka. Disebabkan orang-orang tersebut telah diamanahi untuk menjaga, merawat dan memelihara pusaka bangsa. Sehingga menimbulkan pertanyaaan, apakah barang-barang pusaka warisan nenek moyang sudah tidak ada maknanya lagi? Sebagaimana diungkapkan Soekmono, prestasi nenek moyang tercermin dalam pusaka yang kita warisi. Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga, memelihara dan meneruskan nilai-nilai benda pusaka kepada generasi yang akan datang. Banyak sekali manfaat yang akan kita peroleh, jika benda-benda pusaka kita pelihara, diantaranya sebagai media pendidikan, media untuk memahami kehidupan manusia masa lampau, sumber inspirasi, media untuk mempertebal rasa kesatuan dan persatuan bangsa dan sebagai objek pariwisata yang mendatangkan devisa. Di bawah ini beberapa kasus pencurian benda-benda purbakala yang penulis cuplik d

Menganalisa Kehidupan Sosial, Politik, Ekonomi Indonesia

Pada jaman kerajaan Hindu-Buddha, ada kebiasaan menuliskan suatu peristiwa penting dalam batu bertulis (prasasti). Kebiasaan tersebut ternyata sangat bermanfaat, karena berkat prasasti tersebut kita sebagai generasi penerus memperoleh informasi, baik menyangkut kehidupan sosial, politik maupun ekonomi dari kerajaan tersebut. Coba perhatikan isi prasasti tugu berikut ini ! “Dulu kali Chandrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan mempunyai lengan kencang dan kuat (yakni Raja Purnawarman) buat mengalirkannya ke laut. Setelah (kali ini) sampai di istana kerajaan yang termashur. Di dalam tahun kedua puluh duanya dari tahta yang mulia Raja Purnawarman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji segala raja, (maka sekarang) beliau memerintahkan pula untuk menggali kali yang permai dan berair jernih, Gomati namanya, setelah sungai itu mengalir di tentah-tengah kediaman yang mulia Sang Pendeta (nenek Sang Purnawarman). Pekerjaan ini dimulai pada har

Teori Arus Balik, Dulu dan Sekarang

Banyak teori dikemukakan para ahli sejarah tentang proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu ke Indonesia. Diantaranya yang dikenal dari berbagai buku-buku pelajaran sejarah di SMA adalah teori Ksatria, Waisya, Brahmana dan Sudra. Teori-teori tersebut menimbulkan berbagai macam penafsiran, baik menyangkut kelebihan maupun kekurangannya. Sehingga muncul teori Arus Balik, yang kemudian lebih dikenal dengan teori Nasional. Teori terakhir ini mempunyai kelebihan karena lebih menekankan keaktifan bangsa Indonesia berpartisipasi dalam proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu ke Indonesia. Caranya, orang-orang Indonesia yang telah menuntut ilmu di negara asal agama dan kebudayaan tersebut (India), sekembalinya ke Indonesia kemudian menyebarkan ilmu yang telah diperolehnya kepada bangsa sendiri dengan menggunakan bahasa sendiri (disesuaikan dengan adat istiadat setempat), sehingga proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu bisa lebih mudah dan c